Wanita, Pilih Pria Merokok atau Yang Tidak Merokok?

Merokok merupakan aktivitas yang sudah menjadi kebutuhan bagi pecandunya. Di Indonesia sendiri rokok menjadi konsumsi terbesar kedua setelah beras. Seorang temanku pernah berkata lebih baik ia tidak makan malam daripada ia tidak merokok. Rokok memang sudah menjadi gayahidup manusia selama beberapa dekade terakhir. Manusia sudah mengenal rokok jauh sebelum manusia belajar bersepedah. Jaman dahulu kala rokok digunakan untuk acara ritual pemujaan pada suku-suku indian di Amerika, Rokok berubah menjadi sebuah tren setelah negara eropa menyerang. Berdasarkan banyak penelitian rokok banyak mengandung toksin yang dapat menjadi berbagai penyakit.  

Berdasarkan riset Badan Kanker Amerika terdapat 7000 bahan beracun yang ada pada kandungan asap rokok dan 2000 diantaranya adalah TAR. Para dokter di Amerika mengklasifikasikan Merokok sebagai kegiatan adiktif yang sulit dihentikan. Hal ini disebabkan oleh kandungan nikotin dalam rokok. Namun, pada kenyataannya nikotin bukanlah faktor risiko dari berbagai penyakit seperti jantung, kanker dan paru. Terdakwa adalah tar, senyawa yang dihasilkan oleh proses pembakaran. 

Tar, seperti yang dicatat oleh pengkajian kanker Amerika Serikat, adalah bahan kimia yang dihasilkan ketika tembakau dibakar. Tar berisi sebagian besar penyebab kanker dan bahan kimia berbahaya lainnya dalam asap tembakau. Ketika asap rokok dihirup, tar dapat membentuk lapisan lengket di dalam paru. Kondisi ini dapat merusak paru, menyebabkan kanker, emfisema, atau masalah paru lainnya. Menghirup asap tembakau juga menyebabkan jenis kanker lainnya, termasuk kanker mulut dan tenggorokan.

Sudah dapat dikatakan bahwa rokok punya segudang dampak masalah kesehatan. Jika dikaji secara psikologis rokok merupakan kegiatan manly atau bahasa termudahnya adalah para perokok didominasi oleh kaum adam. Menurut studi yang telah dipublikasikan di jurnal The Lancet seperlima pria di negara miskin adalah perokok dan menurut data Bali Tobacco Control Initiative (BTCI) dua pertiga dari laki-laki dewasa di Indonesia adalah perokok. Indonesia sendiri menyumbang separuh dari jumlah perokok dewasa di kawasan Asia Tenggara. 

Mirisnya banyak para pria merokok ini tidak memikirkan orang disekitarnya, mereka membuat orang di sekitarnya mau tidak mau menjadi perokok pasif. Tahun 2014 Rumah Sakit Persahabatan Jakarta Timur menemukan kadar karbon dioksida atau yang lebih dikenal sebagai CO2 dari beberapa ibu rumah tangga yang tidak merokok, angkanya mencapai dua kali lipat dibandingkan mereka yang benar-benar tidak terpapar. Artinya banyaknya paparan rokok pada para ibu ini diakibatkan oleh orang terdekat dari mereka. 

Asap rokok tidak hanya mengganggu kesehatan orang di sekitar perokok yang merokok secara pasif. 
Namun yang lebih mengerikan adalah asap rokok yang menempel di pakaian akan menjadi berbahaya ketika dihirup, bahkan jika para perokok ini merokok beberapa jam setelahnya.  Asap rokok ditempelkan ke pakaian dan tubuh dapat menyebabkan pneumonia pada bayi. Pneumonia adalah infeksi paru yang disebabkan oleh bakteri jamur yang berkembang karena udara kotor. Penyakit ini menyebabkan balita sesak nafas hingga demam, dan bahkan dapat menyebabkan kematian.

Wanita bersuami perokok sama saja menanam bom waktu untuk dirinya dan orang yang dicintainya.  Efek kanker dari rokok bahkan juga menempel di seluruh perlengkapan rumah tangga. Materi karsinogen ini bersiko terhirup perempuan saat suaminya sedang tidak merokok. Materi karsinogenik tersebut merusak paru dengan perlahan, hingga tubuh tak bisa lagi memperbaikinya. Kondisi ini bisa diperbaiki bila suami segera berhenti merokok. Upaya preventif lain adalah menjaga pola makan, olahraga, serta berada sejauh mungkin dari rokok.





Comments